Tanjung Kalian, Muntok

foto dari Fotograper.net

Ayo ke Bangka!


Time Traveller Sat, 29 Mar 2008 10:17:00 WIB

Sudah punya tempat tujuan wisata berikutnya? Kalau belum dan masih bingung, coba saja ke Pulau Bangka. Di pulau yang sejak lama terkenal sebagai daerah penghasil timah terbesar di dunia ini memiliki beragam objek wisata yang menawan. Tunggu apa lagi? Ayo ke Bangka! Tapi sebelum berangkat ke Bangka, tak ada salahnya kita buka catatan lembaran sejarahnya.

Sejak tahun 2000 lalu, Pulau Bangka menjadi bagian dari Provinsi Bangka Belitung. Kendati tergolong masih berusia muda, Pulau Bangka ternyata memiliki catatan sejarah panjang. Pulau yang sempat bernama The Duke of York ini dulunya menjadi salah satu pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

Menurut beberapa catatan sejarah, nama Bangka telah mulai disebut sejak abad ke-7, tepatnya pada tahun 686 Masehi. Ini sesuai dengan bukti sejarah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Muara Sungai Mendu, Bangka Barat. Dari penemuan ini, disimpulkan bahwa pada saat itu Pulau Bangka telah menjadi salah satu pelabuhan yang penting dan berkembang menjadi ramai.

Dibawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpengaruh luas hingga ke daratan Asia sebagai kerajaan maritim yang paling lama bertahan di dunia, memberikan bukti-bukti yang menyiratkan bahwa Bangka adalah tempat andalan bagi proses ekspor timah yang pada saat itu mulai dikenal dan menjadi sumber mata pencaharian bagi penduduk Bangka dan Kerajaan Sriwijaya.

Bangka, diambil dari kata vanca [wangka] dalam bahasa Sansekerta yang artinya timah. Makna nama Bangka inilah yang kemudian memperkuat dugaan bahwa timah telah dikenal sejak masa lampau yakni saat pengaruh Hindu mulai masuk ke wilayah ini. Bahkan jauh sebelum Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Bangka.

Ketika perdagangan timah mulai menguntungkan, VOC dibawah kepemimpinan Cournelis de Houtman mulai melirik Bangka hingga akhirnya membuat kontrak dagang pada tahun 1668 dengan sistem monopoli, yaitu bahwa penguasa Bangka dan Belitung mengakui VOC sebagai pelindungnya dan berjanji tidak akan menjalin kerjasama atau berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Namun ketika Belanda kalah dalam perangnya melawan Perancis, otomatis seluruh negara jajahan Belanda jatuh ke tangan kekuasaan Inggris, termasuk didalamnya adalah Pulau Bangka dan Belitung.

Pasukan Inggris dibawah pimpinan Thomas Stanford Raffles, berusaha menundukkan Palembang. Maka, terjadilah perang antara Sultan Palembang melawan tentara Inggris. Bagi Raffles, perang ini lebih bertujuan untuk memperebutkan timah. Akhirnya Inggris berkuasa di Bangka dan Belitung dalam kurun waktu 4 tahun (1812 s/d 1816). Melalui pernyataan politiknya, Inggris mengganti nama Bangka menjadi The Duke of York, dan pelabuhan Belinyu menjadi Port Wellington.

Ketika Belanda berhasil masuk dan mulai berkuasa kembali di Bangka pada akhir tahun 1816, VOC mulai mendatangkan banyak pekerja dari negeri Tiongkok untuk dipekerjakan di pertambangan-pertambangan timah Pulau Bangka.

Pada tahun 1873, pertambangan timah di Belitung mulai dibuka dan berproduksi. Belanda mulai memperkuat pengaruhnya. Perlawanan rakyat Bangka Belitung berkobar. Depati Bahrin adalah salah satu tokoh yang terkenal pada masa itu dan diburu Belanda karena keberaniannya melawan, hingga pihak Belanda mengalami kekalahan dihampir seluruh wilayah Pulau Bangka.

Setelah Depati Bahrin wafat pada tahun 1830-an, perjuangannya melawan kekuasaan Belanda atas Pulau Bangka, diteruskan oleh anaknya yang bernama Depati Amir. Semangat juang melawan kekuasaan Belanda terus membara, bahkan walaupun Depati Amir wafat dan Republik Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, masih ada dua peristiwa heroik yang menasional terjadi di pulau ini, yakni pertempuran di Merbau Airseru pada 25 November 1945 dan pertempuran di Selat Nasik pada 4 Desember 1945.

Lada Jadi Andalan

Hal lain yang juga mengingatkan kita tentang Bangka, adalah hasil perkebunan sahang (lada). Beberapa catatan menyatakan bahwa sejarah perkenalan Bangka dengan lada, diawali oleh Demang Abang Muhammad Ali. Dia adalah orang pertama yang mendatangkan bibit lada ke Bangka pada tahun 1860 dari Lingga.

Sejak itu bibit lada mulai banyak ditanam di seputar Pulau Bangka. Ladang-ladang sahang mulai dibuka. Terlebih setelah Belanda menyatakan bahwa jika timah telah mulai banyak berkurang, maka lada menjadi pengganti penghasilan yang bisa dijadikan andalan di Pulau Bangka. Pernyataan itu membuat pembukaan ladang sahang semakin luas hingga mendekati daerah pertambangan timah. Hingga kini, hasil perkebunan lada telah banyak menghidupi penduduk pulau ini.

Objek Wisata Sejarah di Pulau Bangka:

Makam Depati Bahrin
Terletak di Desa Jade, Dekat Merawang lebih kurang 20 km dari Pangkalpinang. Depati Bahrin dikenal sebagi pemimpin perang gerilya pada jaman kolonial Belanda.

Makam Cok Tien
Makam putri dari Bong Kiung Fu, seorang tokoh Cina yang mendirikan Benteng Kuto Panji. Makam ini berada di dalam benteng, l,5 km dari Kota Belinyu. Makam ini erat kaitannya dengan sejarah kedatangan masyarakat Cina ke Bangka.

Makam H. Hotamarrasyid H. Usman
Makam keramat yang berada di atas bukit sekitar 42 km dari Jebus mengarah ke utara. Juga dapat dicapai dari Belinyu dengan menyeberang Selat Teluk Kelabat. Menurut sejarah, Hotamarrasyid keturunan orang Palembang asli dan tokoh masyarakat yang disegani pada jaman kolonial Belanda yang hijrah ke Pulau Bangka.

Phak Khak Liang
Menjadi saksi sejarah penambangan timah di Bangka yang kemudian dijadikan kawasan wisata yang dipenuhi bangunan bergaya Cina. Lokasinya berada di Belinyu, 57 km dari Sungailiat. Datang kesini seolah kita berada di Hongkong.

Mercusuar Tanjung Kelian
Mercusuar yang dibangun tahun 1862 ini terletak 9 km dari Kecamatan Muntok. Dari puncaknya kita dapat menyaksikan seluruh kawasan Pantai Muntok. Disini juga ada monumen peringatan 21 pesawat Australia yang gugur dalam peristiwa pemboman Kapal Laut Australio oleh Jepang pada tanggal 16 Februari 1942.

Legenda Batu Balai
Batu yang menyerupai kapal besar ini terletak di Muntok. Menurut legenda batu ini jelmaan anak yang dikutuk ibunya karena durhaka.

Situs Kota Kapur
Terletak 50 km dari Pangkalpinang, berlokasi di Muara Sungai Mendo Barat yang menunjukkan bahwa Bangka adalah jajahan Sriwijaya.

Wisma Gunung Menumbing
Berada 30 km dari kota Muntok. Di lokasi ini terdapat kamar Presiden RI pertama Soekarno pada saat menjalani masa pengasingan di Bangka. Selain itu ada Wisma Ranggam atau Rumah Soekarno, 5 km dari Kota Muntok yakni tempat Bung Karno mengadakan pertemuan menyusun strategi kemerdekaan.

Kampung Gedong
Berada 5 km dari Kota Sungailiat. Merupakan perkampungan tua milik 50 kepala keluarga dari generasi pertama etnis Tionghoa yang datang ke Pulau Bangka untuk diperkerjakan sebagai buruh di pertambangan timah.

Vihara Dewi Kwan Im
Di Desa Jelitik, sekitar 15 km dari kota Sungailiat, tepatnya di bawah kaki bukit yang dialiri sungai. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, airnya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dan juga bisa bikin awet muda. Disana terdapat kolam pemandian dan vihara kecil untuk sembahyang.

Sumber: Majalah Travel Club

Napak Tilas Pengasingan Presiden Soekarno di Gunung Menumbing

Melalui jalan yang tua warisan penjajah Belanda, dengan tanjakan yang begitu dahsyat. Lalu kiri - kanan jurang diantara Hutan yang begitu Pekat, dan dingin menyelusup diantara tubuh yang menunggang si merah shogun Sp.

Inilah jalan menuju Pengasingan Soekarno Di Pulau Bangka, yang kini menjadi Hotel Jati Menumbing. Berada 30 km dari kota Muntok. Di lokasi ini terdapat kamar Presiden RI pertama Soekarno pada saat menjalani masa pengasingan di Bangka. Selain itu ada Wisma Ranggam atau Rumah Soekarno, 5 km dari Kota Muntok yakni tempat Bung Karno mengadakan pertemuan menyusun strategi kemerdekaan.
Labels: 0 comments | edit post